Tentang Kosmology

Posted on

Rasa-rasanya, setiap orang pernah mempertanyakan keberadaaan dirinya di dalam alam. Mengapa aku di sini? Bagaimana asal mulaku ada di sini? Mengapa ada segala sesuatu di sekitarku? Dari mana asal semua ini? Mengapa semua terlihat begitu teratur? Mengapa alam begitu teratur? Pertanyaan-pertanyaan ini, betapa pun disampaikan dengan cara yang sederhana, mengandung nilai kosmologis yang amat tinggi, karena pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat membawa kita pada telaah terperinci mengenai alam semesta.

Apakah kosmologi? Kosmologi sekarang ini dikenal sebagai bagian dari ilmu pengetahuan alam, namun kosmologi dalam pengertian yang seluas-luasnya sudah muncul lama sebelum ilmu pengetahuan ada. Kosmologi dalam pengertian itu adalah setiap upaya manusia untuk memahami alam semesta yang kita huni.

Kata kosmologi berasal dari kata Yunani kosmos yang dipakai oleh Pythagoras (580-500 SM) untuk menggambarkan keteraturan dan keselarasan pergerakan benda-benda langit. Istilah ini dipakai lagi oleh Christian Wolff (1679-1754) ketika membagi-bagi wilayah pengkajian filsafat. Dalam pengertian Wolff kosmologi adalah telaah tentang sistem kosmik; dalam kosmologi ini alam semesta diselidiki menurut inti dan hakikatnya yang mutlak, menurut segi material maupun menurut segi maknanya. Ini berarti obyek-obyek yang dipelajari tidak secara a priori dibatasi pada benda-benda fisika-kimia ataupun biotik, tetapi juga manusia dan alam semesta sejauh dialami manusia. Istilah dunia sebetulnya lebih tepat daripada alam semesta untuk pengertian kosmologi ini, mengingat ungkapan alam semesta lebih menunjuk pada obyek material. Titik tolak kosmologi secara umum adalah kesatuan manusia dan alam semesta serta dunia yang dialami manusia.

Kemajuan ilmu pengetahuan alam dengan metode eksperimentalnya yang khas menyebabkan kosmologi mulai memanfaatkan pendekatan ilmu-ilmu empiris. Gejala ini kian melekat pada akhir abad ke-19, sehingga kosmologi yang berkembang selanjutnya lebih dilihat dan diterima sebagai sintesis besar berbagai cabang ilmu pengetahuan alam, daripada sebagai spekulasi filosofis mengenai alam semesta.

Dalam penggunaan modern oleh para ilmuwan, kosmologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang berupaya memahami struktur spasial, temporal, dan komposisional alam semesta skala besar. Metode yang digunakan adalah metode ilmu pengetahuan alam. Kosmolog menelaah ruang-waktu, menyelidiki asal usul materi di dalam alam semesta, termasuk asal usul kosmos itu sendiri. Kosmologi mempelajari peristiwa-peristiwa penting kosmis termasuk asal mula kehidupan dan kesadaran di planet Bumi. Kehidupan berkesadaran menjadi bagian penting dalam kosmologi karena merepresentasikan Kosmos yang berpikir dan menyadari diri sendiri.

Kosmologi merupakan bagian tertua dari pengetahuan manusia sekalipun kapan persisnya kosmologi dimulai, pastilah sudah tenggelam dalam genangan waktu. Namun sejak awal manusia sudah didorong oleh semangat untuk mengetahui tempatnya di dalam alam semesta, mengetahui daya-daya yang menguasainya, sekaligus juga daya-daya yang masih dapat ia kuasai.

Asal usul segala kejadian mulai dijelaskan secara runtun melalui mitos. Mitos boleh disebut sebagai upaya pertama manusia untuk menjelaskan secara sistematis gejala-gejala yang ada dalam alam; para kosmolog seringkali menyebut mitologi sebagai kosmologi pra-ilmu.

Mengapa terjadi peralihan dari alam semesta magis ke alam semesta mitos? Dalam bukunya The Golden Bouh: A Study in Magic and Religion (1922) yang juga dikutip oleh Harrison (1981), antropolog James Frazer menyatakan dugaannya bahwa pertumbuhan pengetahuan di kalangan manusia primitif menyebabkan mereka menyadari dengan jernih kemahaluasan alam dan ketakberartian manusia yang kecil di dalamnya. Pengenalan terhadap ketakberdayaan ini memperkuat keyakinan akan adanya kekuatan dahsyat supernatural yang telah mampu mengontrol mesin raksasa alam. Maka sekalipun tidak memberi informasi mengenai daya-daya alam, mitos, seperti dikatakan van Peursen dalam Strategi Kebudayaan (1988) menyadarkan manusia akan adanya kekuatan-kekuatan ajaib. Mitos membantu manusia untuk menghayati daya-daya itu sebagai daya yang mempengaruhi dan menguasai seluruh alam termasuk kehidupan manusia. Mitos menjadi perantara antara manusia dan daya-daya alam; lewat mitos manusia seakan-akan mendapat jaminan bahwa hari ini akan berlalu seperti sudah dikisahkan dalam mitos. Lewat mitos manusia juga memperoleh keterangan-keterangan tentang dunia yang dihuninya.

Mitos tentang asal-usul dunia disebut kosmogoni. “Pada mulanya, ketika Langit di atas dan Bumi di bawah belum bernama, terdapatlah Apsu–pusaran mata air amat dalam tak berdasar–si permulaan, dan Tiamat–tenaga buta maha dahsyat,” demikian tertulis dalam mitos tertua yang ditemukan di Mesopotamia. Pertautan keduanya melahirkan dinasti dewa dan dewi yang kelak membuat kisah-kisah menarik yang terdapat dalam mitologi bangsa kuno.

Di India, mitos membawa kita kepada dewa dan dewi Hindu. Di Rig Veda misalnya dituliskan, “siapakah dapat mengetahui dan menyatakan kapan muncul penciptaan ini? Dia, asal pertama ciptaan ini, yang matanya di langit tertinggi mengatur dunia ini, apakah ia membentuk ini semua atau ia tidak membentuk ini semua, hanya ia yang mengetahui, atau barangkali ia tidak mengetahuinya.” Namun kemudian, dalam Manu, kitab hukum Hindu, disebutkan bahwa segala sesuatu mulanya dalam kegelapan, tanpa bentuk, melampaui nalar dan pemahaman, sepertinya sepenuhnya tertidur. Lalu Tuhan yang mengada-sendiri mengejawantah, membuat segala sesuatu terpahami dengan dayanya, menyingkap alam semesta ke dalam unsur-unsurnya, dan memecahkan bayang-bayang kegelapan.

Namun bangsa India kuno juga mempunyai gagasan yang menarik lainnya tentang jagat raya ini. Bangsa yang sudah memulai kebudayaannya sedikitnya sejak 3000 tahun SM di lembah sungai Indus di Mohenjo-Daro atau di Harappa ini, percaya bahwa Bumi yang datar bersangga di atas punggung beberapa ekor gajah raksasa; gajah-gajah itu berdiri di atas punggung seekor kura-kura maha besar. Langit tidak lain adalah seekor ular kobra raksasa yang badannya melingkari Bumi; pada malam hari sisik-sisik ular itu mengkilat berkilauan sebagai bintang-bintang. Gagasan ini menunjukkan kepercayaan pada dunia atas tempat bersemayam para dewa, dunia bumi tempat hidup manusia, dan dunia bawah tempat tinggal ruh jahat. Ular menjadi lambang kekuatan mencipta, sedangkan kura-kura adalah lambang keabadian.

Bangsa Cina yang terkenal praktis dan sudah mengenal kalender sedikitnya pada abad ke-14 SM, membangun Langit yang mirip suatu birokrasi yang tertata dengan baik tempat para dewa mendaftar, melapor, dan mengatur langkah manusia di Bumi. Maka pentinglah juga untuk manusia membuat catatan mengenai kegiatan para dewa dan dewi itu. Tidak mengherankan jika astronom Shih Shen sudah berhasil menyusun katalog bintang–sangat boleh jadi merupakan katalog tertua–yang terdiri dari 800 entri pada tahun 350 SM; atau mencatat dengan cermat kedatangan komet dan batu meteorit yang jatuh sejak tahun 700 SM.

Dalam Kitab Konfusian disebutkan adanya lima unsur dasar alam yaitu eter, api, udara, air dan bumi, yang masing-masing mempunyai derajat kehalusan dan masing-masing mempunyai keselarasannya sendiri. Bangsa Cina memperkenalkan pula konsep maskulin Yang yang berkualitas cahaya, panas, dan kering seperti dilambangkan oleh Matahari, dan konsep femini Yin yang membawa kualitas bayang-bayang, sejuk, dan lembab seperti Bulan. Belitan kedua gaya ini membangkitkan keteraturan, rasa, dan segala sesuatu yang ada.

Mitos-mitos yang paling terkenal dan menyebar paling luas ke seluruh dunia adalah yang berasal dari bangsa Yunani. Mereka memperkenalkan empat bentuk asal yang menurunkan semua dewa dan dewi mereka yang hidup dalam kisah-kisah menakjubkan dan memenuhi ribuan halaman buku. Ke-4 bentuk itu adalah Chaos–penguasa ngarai dalam tak berdasar, Gaea si Bumi, Tartarus dari dunia bawah, dan Eros, gairah cinta.

Bangsa Yunani membangun mitos dengan menggunakan rasi bintang; mereka lalu membuat prakiraan gerak planet, meramal komet, gerhana Bulan dan gerhana Matahari. Mereka memanfaatkan susunan langit untuk menentukan kejadian-kejadian di Bumi. Di tangan bangsa Yunani, astrologi yang berasal dari Babilonia (sekarang Irak) menjadi sangat populer dan berpengaruh kuat. Tidak sedikit orang yang sampai hari ini masih menggantungkan nasibnya pada astrologi. Astrologi menjadi kepercayaan kuno yang paling panjang umur.

Betapapun alam semesta mitologis dikuasai oleh para dewa dan dewi, sebetulnya alam semesta mitologis adalah alam semesta yang mengabdi dan berpusat di manusia. Betapapun dahsyatnya kekuatan para dewa dan dewi, mereka semua bertugas melindungi dan melayani manusia. Alam semesta ini sangat antroposentris; alam semesta dibangun di sekitar manusia dan di sekitar seluruh kegiatannya yang mengambil tempat di pusat alam semesta.

(Sumber: Media Kerja Budaya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s